Jakarta, Prodemokrasi.id | Belasan mantan karyawan OpenAI mengajukan gugatan hukum ke pengadilan federal pada Jumat (11/4/2025), mendukung gugatan Elon Musk yang menuntut pemeliharaan status nirlaba OpenAI. Langkah ini memperumit sengketa internal perusahaan kecerdasan buatan (AI) tersebut, yang tengah menghadapi tekanan untuk beralih ke struktur berorientasi profit guna menarik investasi.
Dalam pengajuannya, mantan karyawan yang sebagian besar pernah menempati posisi teknis dan kepemimpinan di Open AI, menegaskan bahwa penghapusan peran pengendalian lembaga nirlaba OpenAI akan “secara mendasar melanggar” misi awal perusahaan. Mereka berargumen bahwa struktur nirlaba, yang memberikan pengawasan atas entitas komersial OpenAI, Inc., merupakan tulang punggung strategi perusahaan dalam mengembangkan AI demi kepentingan umat manusia. “Tanpa pengawasan ini, prioritas bisnis berisiko mengalahkan tujuan kemanusiaan,” tulis mereka.
Konflik ini bermula dari gugatan Musk tahun lalu, yang menuduh OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, menyimpang dari misi awal sebagai organisasi nirlaba yang berfokus pada pengembangan AI “untuk kebaikan semua”. Musk, yang keluar dari dewan direksi pada 2018 sebelum OpenAI meluncurkan ChatGPT, menuding perusahaan kini lebih berpusat pada keuntungan. OpenAI dan Altman membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa transisi struktur tidak akan mengubah misi.
“Dewan Direksi kami telah sangat jelas: organisasi nirlaba kami tidak akan ke mana-mana, dan misi kami tetap sama,” tegas OpenAI dalam pernyataannya.
Perusahaan berargumen bahwa melepas peran pengendalian nirlaba diperlukan untuk mengumpulkan dana dari investor. Saham yang dimiliki lembaga nirlaba di OpenAI, Inc. disebut akan terus bertambah nilainya seiring pertumbuhan perusahaan, sehingga memperkaya sumber daya untuk misi kemanusiaan.
OpenAI kini berada di bawah tekanan untuk menyelesaikan transisi struktural pada akhir 2025 guna mengamankan putaran pendanaan senilai $40 miliar. Di sisi lain, Musk semakin memperuncing situasi dengan mendirikan xAI pada 2023, perusahaan AI yang disebut Altman sebagai upaya untuk “memperlambat pesaing”. OpenAI bahkan menggugat balik Musk atas tuduhan “berupaya tanpa henti merusak bisnis demi keuntungan pribadi”.
Kasus ini menjadi sorotan global tentang dilema etika dalam pengembangan AI: apakah perusahaan harus mengutamakan misi sosial atau keuntungan finansial? Mantan karyawan menekankan bahwa struktur nirlaba adalah kunci perekrutan talenta, karena banyak yang bergabung karena terinspirasi misi kemanusiaan OpenAI.
“Tanpa itu, kami kehilangan jiwa perusahaan,” ujar salah seorang mantan eksekutif.
Persidangan juri antara Musk dan OpenAI dijadwalkan berlangsung pada musim semi 2026. Sementara itu, dunia menunggu bagaimana konflik ini akan membentuk masa depan AI, teknologi yang semakin menentukan tatanan global.
