Jakarta, Prodemokrasi.id | OpenAI mengajukan gugatan balik terhadap Elon Musk pada Rabu (9/4/2025), menuduh pendiri Tesla itu menggunakan “taktik munafik” untuk memperlambat laju perusahaan dan merebut kendali atas inovasi AI mutakhir demi kepentingan pribadi.
Langkah hukum ini memperuncing konflik hukum berkepanjangan antara Musk dan OpenAI, dua kekuatan besar dalam lanskap teknologi Silicon Valley. Gugatan ini muncul sepekan setelah Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers menetapkan tanggal sidang pada Maret 2026, menolak permintaan Musk untuk menghentikan sementara transisi OpenAI dari organisasi nirlaba menjadi perusahaan berbasis keuntungan.
“Tindakan Elon yang terus-menerus terhadap kami hanyalah taktik munafik untuk memperlambat OpenAI dan menguasai inovasi AI terkemuka demi keuntungan pribadinya,” kata OpenAI dalam pernyataan resminya. “Hari ini, kami menggugat balik untuk menghentikannya.”
Musk, yang pernah menjadi pendiri dan donatur awal OpenAI sebelum keluar dari dewan pada 2018, menuduh perusahaan tersebut menyimpang dari misi awalnya: mengembangkan kecerdasan buatan demi kemanusiaan. Ia mengklaim OpenAI telah melanggar kontrak dengan bertransformasi menjadi entitas komersial.
“Ini tentang kendali. Ini tentang pendapatan,” ujar Ari Lightman, profesor media digital di Universitas Carnegie Mellon. “Semua diskusi mengenai keamanan dan keadilan AI jadi tertutup oleh narasi soal kontrol dan monetisasi.”
Dalam postingan di X pada Rabu, OpenAI menyebut Musk telah “menyebarkan informasi palsu” dan menegaskan, “Elon tidak pernah peduli dengan misi. Dia selalu peduli dengan agendanya sendiri.”
Persaingan juga meningkat di ranah bisnis. Perusahaan AI milik Musk, xAI, saat ini tertinggal dari OpenAI. Bulan lalu, xAI mengakuisisi platform media sosial X, sebelumnya dikenal sebagai Twitter, dan menggabungkannya ke dalam XAI Holdings, yang diklaim Musk bernilai lebih dari $100 miliar.
Pengacara Musk, Marc Toberoff, dikutip dari BBC mengatakan bahwa dewan direksi OpenAI harus mempertimbangkan kembali penawaran kliennya.
“seharusnya mempertimbangkan tawaran tersebut secara serius.” Kata Tobernoff
Pada Februari, Musk melayangkan tawaran senilai $97,4 miliar untuk mengakuisisi OpenAI, yang ditolak CEO Sam Altman dengan candaan, “tidak, terima kasih, tetapi kami akan membeli Twitter seharga $9,74 miliar jika Anda mau.”
